Makalah
Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan
(Seni
sebagai Media Pendidikan & Pendekatan Berbasis Ilmu dalam Pendidikan Seni
Rupa)
Dosen Pengampu : M.
Reyhan F., M.Pd
Kelas/Prodi : 3F/PGSD
Anggota Kelompok 8
:
1)
Tika
Diah Ayu Purwati
2)
Helis
Ita Prastiwi
3)
Berlian
Ramadhani Putri
4)
Gadis
Anugerah I
STKIP
PGRI TULUNGAGUNG
Jalan
Mayor Sujadi No.7 Tulungagung Telp./ Fax 0355-321426
Email:stkippgritulungagung@gmail.com/website: stkippgritulungagung.ac.id/Kode
Pos 66221
Tahun 2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT. bahwa saya
telah menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah seni rupa SD dengan membahas
tentang seni sebagai media pendidikan dan pendekatan berbasis ilmu dalam
pendidikan seni rupa.
Makalah
ini disusun dan dibuat berdasarkan materi – materi yang ada. Materi – materi
bertujuan agar dapat menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa tentang Membutsir Patung dari Plastisin
& Merangkai Barang Bekas. Seperti kata orang
bijak, tidak ada yang sempurna dalam hidup. Oleh karena itu, kritik dan saran
dari pembaca, khususnya dosen pembimbing sangat perlu bagi kami untuk
kesempurnaan makalah kami di kemudian
hari.
Semoga materi ini dapat bermanfaat
dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya kami dan
para pembaca pada umumnya sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai,
Amiin.
Tulungagung,
18 Oktober 2015
Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Seni Rupa adalah
sebuah konsep atau nama untuk salah satu cabang seni yang bentuknya terdiri
atas unsur-unsur rupa yaitu: garis, bidang, bentuk, tekstur, ruang dan warna.
Unsur-unsur rupa tersebut tersusun menjadi satu dalam sebuah pola tertentu.
Bentuk karya seni rupa merupakan
keseluruhan unsur-unsur rupa yang tersusun dalam sebuah struktur atau komposisi
yang bermakna. Unsur-unsur rupa tersebut bukan sekedar kumpulan atau akumulasi
bagian-bagian yang tidak bermakna, akan tetapi dibuat sesuai dengan prinsip
tertentu. Makna bentuk karya seni rupa tidak ditentukan oleh banyak
atau sedikitnya unsur-unsur yang membentuknya, tetapi dari sifat struktur itu
sendiri. Dengan kata lain kualitas keseluruhan sebuah karya seni lebih penting
dari jumlah bagian-bagiannya.
Karya seni
rupa dapat dibagi menjadi dua yaitu: karya seni rupa dua dimensi
dan karya seni rupa tiga dimensi. Karya seni rupa dua
dimensi adalah karya seni rupa yang hanya memiliki dimensi panjang dan lebar atau karya yang hanya dapat
dilihat dari satu arah pandang saja. Contohnya, seni lukis, seni grafis, seni
ilustrasi, relief dan sebagainya. Karya seni rupa tiga dimensi adalah
karya seni rupa yang memiliki dimensi panjang, lebar dan tinggi, atau
karya yang memiliki volume dan menempati ruang. Contoh : seni patung, seni kriya,
seni keramik, seni arsitektur dan berbagai desain produk.
B. RUMUSAN
MASALAH
1.
Bagaimana
seni sebagai media pendidikan ?
2.
Bagaimanakah
pendekatan berbasis ilmu dalam pendidikan seni rupa ?
C. TUJUAN
1.
Untuk
mengetahui seni sebagai media pendidikan.
2.
Untuk
mengetahui pendekatan berbasis ilmu dalam pendidikan seni rupa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Seni
sebagai Media Pendidikan
Pernahkan kita menyaksikan anak-anak (di
bawah usia 10 tahun) yang sedang bermain bersama temannya atau bermain
sendirian? Betapa asyik anak- anak bermain 'rumah-rumahan', bermain
'mobil-mobilan', dan aneka permainan yang disukainya. Mereka bermain sambil
berbicara, berpura-pura seperti orang dewasa. Mereka menirukan gerak-gerik dan
perilaku orang tuanya dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari. Benda-benda
yang tidak terpakai lagi seperti kotak korek api, kotak sabun, dan berbagai
peralatan sederhana yang mudah dijumpainya di rumah, dijadikannya 'teman
bermain'. Benda-benda mati itu dianggapnya sebagai benda yang hidup, dan bisa
diajak bicara. Betapa anak- anak dalam dunianya itu penuh imajinasi dan
fantasi.
Dengan daya imajinasi dan fantasi itulah
anak-anak juga mampu mengembangkan kemampuan penciptaan permainannya sesuai
dengan pengaruh lingkungan dan pendidikan keluarga yang diterimanya.
Kegiatan bermain merupakan kegiatan
jasmani dan rohani yang penting untuk diperhatikan oleh pendidik (dan orang
dewasa). Sebagian besar perkembangan kepribadian anak, misalnya sikap mental,
emosional, kreativitas, estetika, sosial dan fisik, dibentuk oleh kegiatan
permainannya. Permainan anak-anak yang bernilai edukatif dapat dilakukan
melalui kegiatan seni, khususnya seni rupa. Pengertian seni pada dasarnya
adalah permainan yang memberikan kesenangan batin (rohani), baik bagi yang
berkarya seni maupun bagi yang menikmatinya (Rohidi, 1985:81. Keterkaitan seni
dengan permainan juga dijelaskan oleh Ross (1978).
Salah satu kegiatan seni rupa, sebagai
permainan, yang sangat disukai anak-anak ialah kegiatan menggambar. Hampir
setiap anak yang diberi alat tulis akan menggoreskannya pada bidang kosong.
Jika diberi kertas, dia akan menggoreskannya pada kertas dengan sesuka hati.
Jika tidak diberikan kertas, dia akan mencoretkannya pada dinding atau lantai
rumah. Keasyikan menggambar anak-anak itu merupakan bukti bahwa menggambar
baginya sangat memuaskan dan menyenangkan perasaan. Menggambar bagi anak-anak
dapat juga menjadi alat berkomunikasi dan berekspresi yang utuh sesuai dengan
dunianya. Gambar manusia, benda-benda di sekelilingnya serta aneka flora dan
fauna kesenangannya merupakan hasil ekspresinya, dan menjadi media
berkomunikasi dengan orang lain.
Anak-anak yang penalarannya belum
berkembang sangat bergairah berkarya seni, karena kegiatan ini memberikan
keleluasaan dan kebebasan bagi anak-anak untuk mengungkapkan perasaan atau
berekspresi. Ketika penalarannya bangkit, seni harus dipersiapkan untuk
memberikan jalan bagi ekspresi tersebut sebagai kegiatan yang mereka senangi
(Read, 1970:283). Dalam konteks itulah seni dijadikan media pendidikan. Faedah
pendidikan seni, sebagaimana dikemukakan Vincent Lanier (1969) adalah:
a. memberikan
kontribusi terhadap perkembangan individu,
b. memberikan
pengalaman yang berharga (pengalaman estetik),
c. sebagai
bagian yang penting dari kebudayaan.
Jika pendidikan merupakan usaha sadar
yang dilakukan orang dewasa dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaannya,
maka tentunya pula seni rupa dapat digunakan sebagai cara dan sekaligus media
untuk mendidik anak. Jadi makna pendidikan dengan menggunakan seni rupa sebagai
cara dan sekaligus sebagai sarananya. Pada bagian ini perlu dijelaskan
perbedaan makna antara pendidikan seni rupa dengan pengajaran seni rupa agar
tidak sampai menimbulkan kesalahtafsiran dalam penggunaan istilah tersebut.
Di sekolah kejuruan seni rupa, berlaku
pengajaran seni rupa yang lebih mengutamakan pemberian bekal kepada para siswa
agar berhasil sebagai lulusan yang memiliki kemampuan/keterampilan bidang seni
rupa tertentu. Sedangkan di sekolah umum, pendidikan seni rupa yang
diberlakukan kepada semua siswa, (berbakat maupun tidak) lebih ditekankan
kepada pemberian berbagai pengalaman kesenirupaan sebagai wahana untuk mencapai
tujuan pendidikan. Seni berfungsi sebagai media pendidikan.
Akan tetapi, istilah "seni sebagai
media pendidikan" tidak berarti bahwa kegiatan seninya tidak penting
(karena dianggap hanya sekedar media). Keterlibatan siswa dengan seni tetaplah
harus menjadi prioritas dalam rangka membentuk kemampuan seni atau meningkatkan
kemampuan seni yang sudah ada pada diri para siswa. Upaya peningkatan kualitas
belajar menjadi fokus kegiatan; dan ini berlaku umum dalam program belajar apa
pun.
Sebagai pembanding, tujuan utama orang
belajar naik sepeda adalah supaya ia bisa naik sepeda; belajar silat supaya
bisa silat, belajar Tembang Cianjuran supaya bisa melantunkan lagu-lagu
Cianjuran yang memiliki karakteristik tertentu. Kemampuan khusus yang diperoleh
itu tadi merupakan tujuan langsung dari belajar yang disebut sebagai
"dampak utama" (main effect) atau "dampak pembelajaran" (instructional
effect) yang ingin dicapai . Bahwa akibat dari belajarnya itu ia menjadi
tekun, sabar atau sehat, itu adalah dampak penyerta/pengiring (nurturant
effect) yang tentu saja tidak kurang manfaatnya bagi kepentingan pribadi
warga belajar.
Dalam pembelajaran di sekolah, khususnya
pembelajaran seni, dampak instruksional maupun dampak pengiring perlu dirancang
sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan belajar yang diharapkan.
Konsekuensi logis dari pemikiran di atas
adalah bahwa penyelenggaraan pendidikan seni harus berkualitas. Pendidikan
seni rupa bukan sekedar kegiatan rutin, sekedar untuk mengisi jam pelajaran
yang tersedia. Siswa harus merasa bahwa dari kegiatan-kegiatan kesenirupaan di
sekolah, ada hasil nyata yang dia perloleh, ada peningakatan atawa kemajuan yang
ia capai: dari tidak tahu menjadi tahu, dari kurang senang menjadi senang, dari
tidak terampil menjadi lebih terampil, dari kurang bisa menata menjadi lebih
bisa menata, dari kurang bisa membedakan menjadi lebih bisa membedakan
(berbagai hal yang menyangkut kesenirupaan). Secara kodrati, kita semua,
khususnya para siswa, tentu tidak menyukai kegiatan remeh-temeh, kegiatan yang
tidak berkualitas, yang hanya membuang-buang waktu.
B.
Pendekatan
Berbasis Disiplin Ilmu dalam Pendidikan Seni Rupa
Pendekatan seni rupa berbasis disiplin
ilmu (dicipline based art education, disingkat DBAE) berintikan
pemikiran bahwa seni telah hadir dalam kehidupan bukan hanya sebagai kegiatan
penciptaan, tetapi juga sebagai cabang pengetahuan yang menjadi bahan
kajianfilosofis maupun ilmiah dan berhak dipelajari di lembaga
pendidikan. Seni adalah disiplin ilmu yang khas dengan karakter yang
dimilikinya, mendapat dukungan kelompok ilmuwan, dikembangkan melalui
penelitian.
Pendukung Pendidikan Seni Rupa Berbasis
Disiplin berpendapat bahwa pendidikan seni rupa yang memberikan kesempatan
kepada anak untuk mengekspresikan ernosinya adalah penting, tetapi jangan
sampai mengabaikan kegiatan mempelajari aspek pengetahuan keilmuannya. Cakupan
pendidikan seni rupa perlu diperluas. Eisner (1987/1988) menegaskan bahwa
Pendidikan Seni Rupa Berbasis Disiplin bertujuan untuk menawarkan program
pembelajaran yang sistematik dan berkelanjutan dalam empat bidang seni rupa
yang lazim dalam kenyataan yaitu bidang penciptaan, penikmatan, pemahaman,
dan penilaian. Keempat bidang tadi disampaikan dalam kegiatan belajar:
produksl seni rupa, kritik seni rupa, sejarah seni rupa dan estetika. Anak
hendaknya tidak hanya diberi kesempatan untuk berekspresi/ menciptakan karya
seni rupa tetapi juga perlu mempelajari bagaimana caranya menikmati suatu karya
seni rupa serta memahami konteks dari sebuah karya seni rupa dari berbagal
masa. Pelaksanaannya tidak harus terpisah tetapi dapat dipadukan.
Pendidikan Seni Rupa Berbasis Disiplin
merupakan suatu pendekatan dan bukan merupakan suatu metode yang spesifik, maka
wujud penampilannya dapat yang bervariasi. Yang jelas, sasarannya adalah adanya
peningkatan kemampuan anak dalam berbagai bidang kegiatan tersebut.
Ciri DBAE adalah :
1.
Seni rupa sebagai subyek dalam
pendidikan umum dengan kurikulum yang tertulis serta disusun secara sistematis
mencakup kegiatan ekspresi/kreasi, teori, dan kritik/apresiasi seni rupa, untuk
membangun pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan.
2.
Kemampuan anak dikembangkan untuk:
menghasilkan karya, menganalisis, menafsirkan, dan menilai kualitas karya,
mengetahui dan memahami peran seni rupa dalam masyarakat serta memahami
keunikan karya seni rupa dan bagaimana orang memberikan penilaian dan
menguraikan alasan penilaian tersebut.
3.
Seni Rupa diimplementasikan dengan
dukungan masyarakat, staf pengembang, nara sumber, dan program penilaian
(Dobbs, 1992).
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dengan daya imajinasi dan fantasi itulah
anak-anak juga mampu mengembangkan kemampuan penciptaan permainannya sesuai
dengan pengaruh lingkungan dan pendidikan keluarga yang diterimanya.Kegiatan
bermain merupakan kegiatan jasmani dan rohani yang penting untuk diperhatikan
oleh pendidik (dan orang dewasa). Sebagian besar perkembangan kepribadian anak,
misalnya sikap mental, emosional, kreativitas, estetika, sosial dan fisik,
dibentuk oleh kegiatan permainannya.
Permainan anak-anak yang bernilai edukatif
dapat dilakukan melalui kegiatan seni, khususnya seni rupa. Pengertian seni
pada dasarnya adalah permainan yang memberikan kesenangan batin (rohani), baik
bagi yang berkarya seni maupun bagi yang menikmatinya (Rohidi, 1985:81.
Keterkaitan seni dengan permainan juga dijelaskan oleh Ross (1978).
Pendekatan seni rupa berbasis disiplin
ilmu (dicipline based art education, disingkat DBAE) berintikan
pemikiran bahwa seni telah hadir dalam kehidupan bukan hanya sebagai kegiatan
penciptaan, tetapi juga sebagai cabang pengetahuan yang menjadi bahan
kajian filosofis maupun ilmiah dan
berhak dipelajari di lembaga pendidikan. Seni adalah disiplin ilmu yang khas
dengan karakter yang dimilikinya, mendapat dukungan kelompok ilmuwan,
dikembangkan melalui penelitian.
B. SARAN
Kami
menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu kami sangat menerima
saran dan masukan dari saudara.
DAFTAR PUSTAKA
( di Akses tanggal 12 Oktober 2015, pukul 10.00 WIB)
http://tripangesti.blogspot.co.id/2011/02/makalah-seni-sebagai-media-pembelajaran.html(
di Akses tanggal 12
Oktober 2015, pukul 10.25
WIB)
http://rumahtugasa209.blogspot.co.id/2011/10/pendidikan-kesenian-fungsi-seni.html(
di Akses tanggal 12
Oktober 2015, pukul 10.55
WIB)
http://psrpgsdstikippgritulungagung.blogspot.co.id/2015/09/pendidikan-seni-rupa-dan-kerajinan-pgsd.html?m=1(
di Akses tanggal 12
Oktober 2015, pukul 11.00
WIB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar